Melipat Gandakan Uang Sejak SMA

Melipat Gandakan Uang Sejak SMA

733
0
SHARE

Saat ini dan semoga seterusnya profesi saya adalah bakul atau kerennya pengusaha … Bagaimana saya bisa memutuskan menjadi pengusaha rasanya perlu mengingat kembali masa-masa SMA di Kolese De Britto, Yogyakarta. Sambil nulis (atau baca) enaknya diiringi lagu Kangennya Dewa 19 biar feelnya dapet … lanjut lagu-lagu slank, gigi, sheila … 🙂

Sebagai latar belakang , sebelumnya saya ceritakan dulu bahwa SMA saya di Yogyakarta itu merupakan SMA Khusus Laki-Laki yang cukup dikenal dengan aneka “keunikannya”. Nah di Yogyakarta itu ada juga 3 sekolah khusus wanita yang biasanya menjadi tempat saya dan kawan-kawan untuk “bersosialisasi” dengan lawan jenis.

Saat masa SMA (1997) banyak sekali merchandise sekolah yang diperjualbelikan seperti sticker, kaos dan jaket. Yang menjual adalah kakak kelas , baru mulai pertengahan tahun ajaran ada anak kelas satu yang juga ikut berjualan. Saya sendiri rajin membeli karena mungkin ingin menonjolkan kealmamateran. Dari pembicaraan dengan kawan-kawan yang membuat sticker saya kemudian tau harga pembuatan dan dimana tempat membuatnya. Tapi ya hanya sebatas tau saja, ingin buat sendiri masih ragu. Dulu itu saya termasuk siswa golongan “biasa” , “anteng” , bahkan mungkin agak “pemalu”.

Pemalunya saya di sekolah berbeda dengan di luar sekolah, saya tidak pernah takut atau malu datang ke sekolah khusus wanita. Saat kawan-kawan datang bergerombol , datang sendirianpun buat saya tidak masalah, biasa saja. Saat mulai dekat dengan salah seorang siswi di sekolah khusus wanita itu entah siapa yang memulai muncul ide pembuatan sticker . Saya yang membuat dan dia yang menjual. Dia lebih pandai bergaul di sekolah dan lebih pandai sebagai “sales”.

Uji coba membuat sticker dimulai, setelah mendapatkan design yang bagus maka dengan modal Rp. 50.000,- mulailah pembuatan 100 pcs sticker. Modal Rp. 50.000,- bisa dilipatgandakan menjadi Rp. 100.000. Sangat lumayan bagi kami selaku “pengusaha sma” waktu itu. Sukses melipatgandakan uang maka kamipun makin semangat dan berlanjut ke pembuatan sticker berikutnya, sempat juga membuat jacket. Untuk jacket keuntungannya lebih besar meski modal yang dikeluarkan juga tentunya lebih besar.

Jika dipikir bagaimana saya bisa tertarik menjadi “pengusaha” , maka rasanya jualan sticker itulah yang memicunya. Saya masih ingat sensasi pertamakali memproduksi, menjual suatu produk dan kemudian mendapatkan “reward” itu amat sangat menyenangkan…

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY